Autisme dalam Penjas

Posted: November 5, 2009 in kuLiah, Uncategorized
Tag:,

1 Pengertian Autisme

  • Istilah “autis” berasal dari kata auto yang berarti diri sendiri, sedangkan kata isme berarti aliran, paham atau pandangan. Dengan demikian secara etimologis berarti suatu pandangan atau paham yang tertarik hanya pada diri sendiri. Autis dikatakan sebagai gangguan perkembangan yang kompleks yang menyangkut aspek komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas jasmani. ( Suryana, 2004 )
  • Sedangkan secara medis, autis dikatakan sebagai gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut aspek komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas jasmani.

( Suryana, 2004 )

2 Karakteristik dari anak autis

Sebenarnya karakteristik dari anak autis tersebut digolongkan berdasarkan luasnya gangguan terhadap mental si anak pengidap autis, apakah tergolong gangguan berat, sedang, ringan. Tetapi dalam makalah ini, tim penyusun menjadikan satu kumpulan karakteristik langsung. Karakteristik anak autis sangat serupa dengan karakteristik orang yang sedang tripping ( pengalaman halusinasi yang disebabkan oleh obat – obatan yang menimbulkan khayal ) karena mengidap LSD ( Lysergic acid diethylamide ) adalah senyawa kristal C20 H25 N3 O yang diturunkan dari asam lysergik, sebuah komponen jamur orgat claviceps purpurea. Jamur penyakit yang menyerang gandum – ganduman. LSD digunakan sebagai obat pembangkit halusinasi yang kuat.

Karakteristik lainnya sibuk dengan sendirinya secara ekstrem; rasa tidak aman, kelabilan postural; kepekaan indrawi berlebihan; paranoid; sulit berkomunikasi. Tanda – tanda autis yaitu tidak bisa mengusai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari – hari, hanya bisa mengulang beberapa kata, mata yang tidak jernih atau tidak bersinar, tidak suka atau tidak bisa atau tidak mau melihat mata orang lain, hanya suka akan mainannya sendiri, serasa dia punya dunianya sendiri, tidak suka berbicara dengan orang lain, tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain.

3 Penanganan Anak Autisme

Dalam suatu lembaga pendidikan seperti Sekolah Luar Biasa ( SLB ) bagi anak autis, tidak jarang jika penanganan anak autis selain melalui suatu bimbingan dan sosialisasi – sosialisasi juga menggunakan suatu terapi – terapi yang berfungsi untuk meminimalisir dari keAutisan itu. Berikut adalah cara penanganan anak autis dengan menggunakan suatu terapi – terapi yaitu sebagai berikut :

  • Auditory Integration Therapy yaitu terapi integration pendengaran. Karena sebagian anak autis sangat peka terhadap bunyi. Terapi ini dilakukan untuk mengurangi sinyal – sinyal yang membingungkan dipusat pendengaran.
  • Sensory Integration Therapy yaitu terapi integrasi inderawi. Membantu menyembuhkan gerakan tubuh yang labil dengan cara melalui stimuli sentuhan.
  • Terapi Wicara yaitu untuk membantu melancarkan otot – otot mulut sehingga membantu anak berbicara lebih baik.
  • Terapi Okupasi yaitu untuk melatih motorik halus anak.

1 Penyelenggaraan Sekolah Bagi Autis

Bentuk Pelayanan Pendidikan dapat diselenggarakan di SLB khusus bagi anak autis. Berdasarkan badan penyuluhan dunia tentang anak berkebutuhan khusus, menyatakan bahwa penderita autis semakin tahun semakin meningkat sangat drastis, penderita sebagian besar adalah anak – anak.

Di dalam pelaksanaan penyelenggaraannya kita mengenal macam-macam bentuk penyelenggaraan pendidikan anak autis yaitu sebagai berikut:

  1. Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah khusus tersebut.
  2. Kelas khusus apabila anak autis untuk membedakan dari gejala – gejalanya, apakah tergolong ringan, sedang, berat. Apabila gejalanya ringan, maka dikelompokkan ke kelas yang memiliki tingkat ke autisannya ringan. Setelah membentuk kelas – kelas khusus tersebut maka akan adanya pendiagnosaan ( mengetahui kelemahan dan kelebihan ) untuk mengetahui perkembangannya. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
  3. Sekolah Luar Biasa bagian autis tanpa asrama Bagi Anak autis yang perlu dipisah belajarnya dengan teman yang lain karena gejala yang di idap si anak autis tersebut.
  1. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam upaya menemukan pribadi, menguasai masalah yang disebabkan oleh kelainan yang disandang, mengenali lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing, bimbingan juga bisa dilakukan dengan keterampilan konseling yang dilakukan oleh guru pembimbing.
  2. Rehabilitasi merupakan upaya bantuan medik, sosial, dan keterampilan yang diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan di SLB. Bimbingan dan rehabilitasi melibatkan para ahli terapi fisik, ahli terapi bicara, dokter umum, dokter spesialis, ahli psikologi, ahli pendidikan luar biasa, perawat dan pekerja sosial( yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu melalui terapi ).

2 Pendidikan Jasmani pada Anak Autis

Pendidikan Jasmani dalam mengembangkan gerak anak autis yaitu bagaimana kita menerapkan gerak lokomotor dan nonLokomotor. Gerak lokomotor bisa dilakukan dengan jalan – jalan dengan bernyanyi atau dengan lari – lari kecil, gerak nonlokomotor bisa dilakukan dengan gerakan menimang – nimang bola dengan kedua tangan, melempar bola dengan kedua tangan atau bergantian antara tangan kiri dan tangan kanan, dan gerakan menendang bola dengan kaki kanan atau kaki kiri.

Demi menjamin kesetaraan dan kesesuaian program pendidikan luar biasa autis dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan, kemampuan peserta didik autis serta keefektivitasan dan keefesiensian, penyelenggaraan pendidikan luar biasa autis dapat memilih pola-pola berikut :

  1. Pendidikan Luar Biasa autis merupakan gabungan semua satuan pendidikan. Menurut pola ini, hanya terdapat satu bentuk yang menyelenggarakan semua satuan pendidikan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
  2. Pendidikan Luar Biasa autis dibagi menurut satuan pendidikan. Menurut pola ini terdapat 3 (tiga) bentuk yaitu SDLB, SLTPLB dan SMLB yang masing-masing disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
    Penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik autis yang memiliki kecerdasan normal dapat dilaksanakan bersama dengan anak normal melalui pendidikan terpadu dan atau kelas khusus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s